Lean Manufacturing adalah suatu metode praktik produksi yang mempertimbangkan segala pengeluaran sumber daya yang ada untuk mendapatkan ni...

Pengertian Lean Manufacturing

 


Lean Manufacturing adalah suatu metode praktik produksi yang mempertimbangkan segala pengeluaran sumber daya yang ada untuk mendapatkan nilai ekonomis terhadap pelanggan / konsumen tanpa adanya pemborosan. Pemborosan inilah yang menjadi target untuk dikurangi atau dihilangkan dari proses produksi. Metode ini selalu dilihat dari sudut pandang konsumen dimana kita memposisikan berapa harga yang layak konsumen bayarkan untuk membeli produk tersebut. Lean merupakan upaya yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mencegah serta menghilangkan pemborosan sehingga bisa meningkatkan nilai tambah produk untuk konsumen. Konsep lean ini akan tergambar jelas di lapangan pada tingkat rasio nilai tambah terhadap pemborosan. Pemborosan yang sering terjadi adalah pemborosan waktu, tenaga dan penggunaan alat yang tidak berguna. Dapat disimpulkan metode ini guna mendapatkan nilai sebaik mungkin dengan proses seminim mungkin tanpa mengurangi kualitasnya.


Hal ini sangat dibutuhkan dalam manajemen industri karena beberapa alasan, yang pertama integritas kerja karyawan yang rendah, fokus pada sumber daya manusia yang tidak potensial dan tidak produktif. Yang kedua, karyawan tidak disiplin membuat kerja tidak beraturan yang berakhir pada pemborosan. Yang terakhir adalah karyawan tidak bekerja profesional dan efisien, lebih untuk merekrut karyawan sedikit namun profesional daripada merekrut banyak karyawan tetapi tidak profesional. Kaitan lean manufacturing dengan 5R adalah penerapan prinsip dari 5R yang dapat membantu meningkatkan efektifitas kerja dan mengurangi pemborosan yang tidak perlu. Demikian juga dengan Jhisuken diperlukan dalam menerapkan lean manufacturing sehingga setiap karyawan dapat mengimplementasikan lean manufacturing.

Tedapat 7 macam kategori pemborosan dalam insutri manufaktur :

1.     Waste of Overproduction (Produksi Berlebihan)
Terjadi saat ada penumpukan barang jadi ataupun setengah jadi tetapi tidak ada yang order.

2.     Waste of Inventory (Inventori)
Terjadi ketika bahan mentah, setengah jadi, dan barang jadi menumpuk disemua proses sehingga memerlukan tempat penyimpanan.

3.     Waste of Defects (Cacat atau kerusakan)
Karena adanya produk yang cacat atau rusak sehingga memerlukan biaya tambahan untuk memperbaiki.

4.     Waste of Transportation (pemindahan atau transportasi)
Terjadi karena jeleknya penataan layout produski, contohnya adalah letak gudang yang jauh dari tempat produksi.

5.     Waste of Motion (Gerakan)
Pemborosan gerakan baik dari operator dan mesin yang dinilai tidak perlu, contohnya peletakan komponen yang jauh dari jangkauan operator.

6.     Waste of Waiting (Menunggu)
Terjadi saat mesin atau operator menganggur karena adanya ketidak seimbangan dalam proses produksi, contohya mesin rusak, lamanya produksi di proses tertentu, supply yang terhambat.

7.     Waste of Overprocessing (proses yang berlebihan)
Proses yang dinilai tidak penting, membuang waktu dan tidak memberikan efek, contohnya adalah QC / inspeksi yang dilakukan secara berulang-ulang.



Disusun oleh James Levi Pranoto Kawotjo (2019-2-036)
Sumber       :

0 comments: